Cuaca hari itu cukup panas. Langkah saya terburu-buru memasuki stasiun Manggarai untuk mengejar jadwal kereta menuju Bogor. Saya melirik jadwal kereta untuk ekonomi AC ternyata jam 10.30. Oke! Satu karcis ekonomi AC menuju Bogor sudah saya beli dengan harga 5500 rupiah. Ketika saya melihat jam tangan saya, ternyata masih pukul 09.30. Saya mendadak tolol jika sudah buru-buru seperti itu. Maklumlah, kebiasaan lama masih ada yaitu "telat". Dengan pasrah akhirnya saya menaiki kereta ekonomi tanpa AC.
Seorang Ibu menyuruh anak nya -sekitar berumur 6 tahun- berdiri di bangku dan mempersilahkan saya duduk di tempat anaknya. Mungkin Ibu itu merasa kasihan terhadap saya. Karena saya sebelumnya bertanya kepadanya.
Saya bertanya-tanya dalam hati. Apa tampang saya seperti baru naik kereta? atau tampang saya itu kayak orang bego ya? hmmm...ya sudah lah. Saya mengambil I-Pod (baca: MP3) dari tas saya. Saya sumpel telinga saya dengan kedua earphone I-Pod.
Tak terasa waktu terus berputar dan kereta terus berjalan tanpa macet. Kemudian saya melihat dua orang bocah anak perempuan yang masih imut-imut itu ngamen di gerbong kereta yang saya tumpangi. Mendadak saya terkesima dengan mereka. Ya Allah, mereka masih sangat kecil untuk melakukan hal itu. Mereka terlalu kecil untuk menjalani kehidupan yang keras. Miris hati saya melihat mereka,,wajahnya masih sangat polos. Terkadang mereka tersenyum kepada para penumpang kereta yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Saya terus menatap mereka sampai mereka menyelesaikan lagu yang mereka nyanyikan. Setelah mereka meminta uang kepada penumpang. Mereka tersenyum kemudian menuju gerbong selanjutnya.
Mereka membuat saya bersyukur dengan apa yang saya punya saat ini. Sekarang, kalau saat saya sedang patah hati atau bersedih hati, saya selalu mengingat mereka. Apa yang saya rasakan ini belum seberapa dari yang mereka alami. Mereka terlihat begitu ikhlas menjalani nasibnya. Ya Robb, saya belajar ikhlas dan lebih kuat dari anak-anak kecil itu. Semoga mereka akan menjadi penerus bangsa yang kuat.
Tidak salah kita belajar dari seseorang yang lebih rendah derajatnya dari kita jika itu membuat kita lebih baik dari sebelumnya. Semua manusia dimata Allah itu sama, yang membedakan hanya Taqwa.
Seorang Ibu menyuruh anak nya -sekitar berumur 6 tahun- berdiri di bangku dan mempersilahkan saya duduk di tempat anaknya. Mungkin Ibu itu merasa kasihan terhadap saya. Karena saya sebelumnya bertanya kepadanya.
"Maaf,bu. Kereta ini menuju ke Bogor kan?" tanya saya.
"Iya, neng. Nanti stasiun Bogor setelah stasiun Bojong. Ibu turun di stasiun Bojong kok" Ujar sang Ibu.Tanpa Ba Bi Bu saya langsung duduk. Kemudian,percakapan di mulai kembali.
"Sini,neng..duduk aja disini." Ujar Ibu itu lagi.
"Stasiun Bogor itu, pemberhentian kereta terakhir,neng." Ujar Ibu itu.
"Iya,bu" Jawab saya sambil tersenyum.
" Nanti neng jangan salah turun ya." Ucap Ibu itu kembali dengan wajah yang kelihatan worried sama saya.
"Iya,bu" Jawab saya sambil senyum kembali.
Saya bertanya-tanya dalam hati. Apa tampang saya seperti baru naik kereta? atau tampang saya itu kayak orang bego ya? hmmm...ya sudah lah. Saya mengambil I-Pod (baca: MP3) dari tas saya. Saya sumpel telinga saya dengan kedua earphone I-Pod.
Tak terasa waktu terus berputar dan kereta terus berjalan tanpa macet. Kemudian saya melihat dua orang bocah anak perempuan yang masih imut-imut itu ngamen di gerbong kereta yang saya tumpangi. Mendadak saya terkesima dengan mereka. Ya Allah, mereka masih sangat kecil untuk melakukan hal itu. Mereka terlalu kecil untuk menjalani kehidupan yang keras. Miris hati saya melihat mereka,,wajahnya masih sangat polos. Terkadang mereka tersenyum kepada para penumpang kereta yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Saya terus menatap mereka sampai mereka menyelesaikan lagu yang mereka nyanyikan. Setelah mereka meminta uang kepada penumpang. Mereka tersenyum kemudian menuju gerbong selanjutnya.
Mereka membuat saya bersyukur dengan apa yang saya punya saat ini. Sekarang, kalau saat saya sedang patah hati atau bersedih hati, saya selalu mengingat mereka. Apa yang saya rasakan ini belum seberapa dari yang mereka alami. Mereka terlihat begitu ikhlas menjalani nasibnya. Ya Robb, saya belajar ikhlas dan lebih kuat dari anak-anak kecil itu. Semoga mereka akan menjadi penerus bangsa yang kuat.
Tidak salah kita belajar dari seseorang yang lebih rendah derajatnya dari kita jika itu membuat kita lebih baik dari sebelumnya. Semua manusia dimata Allah itu sama, yang membedakan hanya Taqwa.
![]() |
| Photo by : Rien88 |
![]() |
| Photo by :Rien88 |


wah,,
BalasHapussubhanallah lu reenn,,,...
saat di kereta yang keliatannya rame itu,sempet-sempetnye motoin tu anak!heheheheh...
saluuuttttt....wat anak-anak itu,
sekaligus sedih!gak seharusnya mereka berada di sana...