Hari minggu adalah hari yang pas -menurut saya- untuk bangun lebih siang dari biasanya sampai membuat ibu saya berteriak,
Kalau sudah di marahin abis-abisan...sebagai anak yang baik, saya hanya diam, kemudian setelah dimarahin,,ya sudah, saya watados (wajah tanpa dosa) . Bukannya mengajari hal yang tidak baik, tetapi menyadarkan seorang ibu yang suka marah-marah hanya karena menumpahkan air saja.
kenyataan terpahit, ternyata ibu saya lebih sayang terhadap air yang tumpah dari pada anaknya yang imut nan cantik jelita ini kemudian saya minta maaf sama air yang tumpah.
dan lagi ibu saya mengomentari tingkah laku saya tadi.
Ibu saya berfikir sejenak.
Jelas saya melengos. Ibu saya ini terlalu baik sama air dari pada anak sendiri. "Sayang airnya" dan "kamu gak usah bertingkah kayak orang gila". Terlalu baik dengan air pun tidak baik, bisa membuat pertengkaran antara ibu dan anaknya.
Kemudian, siang tadi saya, adik perempuan saya dan bapak saya pergi ke salah satu mall di bilangan jakarta pusat. Parkiran untuk mobil di mall itu sudah sangat penuh, jadilah kami berputar-putar di parking area. Saya berdoa, semoga nggak sampai 7 kali putaran, kalau sampai 7 kali putaran jadi nyamain thawaf di Ka'bah dong. Kalau thawaf di Ka'bah sih dapet pahala,,nah kalau thawaf di parkiran? cuma dapet pegel dan pembesaran betis kiri.
Syukur Alhamdulillah,akhirnya ada mobil yang ingin keluar di putaran kedua kami dan penderitaan di betis kaki kiri pun berakhir (padahal yang menyetir itu bapak saya) serta penderitaan saya dan adik saya yang jadi objek kekesalan bapak kami yang mungkin sudah pusing muter-muter parking area juga ikut berakhir. Kami sudah menentukan sasaran tempat parkiran itu, kemudian saya terkejut dengan bapak yang tiba-tiba membawa mobil maju melewati tempat parkiran yang kosong tadi.
Saya menengok ke kaca belakang. Mau turun dari Hongkong?? Tuh, mobil sedan yang di belakang mobil kami malah mengambil tempat parkiran yang sudah jadi sasaran kami.
dengan psrah, akhirnya mobil kami kembali memutar ke tempat parkir yang diatas. Bapak lagi-lagi mulai dengan "pidato" nya. Akhirnya, mobil kami dapat tempat parkiran di parking area paling atas. Kalau harus turun dan memutar dari bawah lagi, saya akan memberi pendapat untuk ke mall yang lain. Walaupun adik saya -yang kepengen banget ke mall itu- menangis darah.
Akhirnya, aku bilang kepada bapak saya,
Kesempatan nyari tempat parkir gitu.
Dan saya mendapatkan kesimpulan, terlalu baik juga tidak baik. Dan saya mengerti perasaan Raditya Dika ketika menulis artikel itu. :D
Aduhhhh...bagus banget perawan bangun sianggg!!dan saya hanya memutar badan saya sambil menutup telinga dengan guling saya. Ah, apa saya sering bilang dalam hati ibu saya adalah orang yang cerewet, jadi aja ibu saya makin cerewet. Semua yang saya kerjakan diprotes mulu. Mau protes balik terang-terangan bagaimana...beliau kan ibu saya, bisa-bisa dikutuak jadi batu saya layaknya malin kundang.
Kalau sudah di marahin abis-abisan...sebagai anak yang baik, saya hanya diam, kemudian setelah dimarahin,,ya sudah, saya watados (wajah tanpa dosa) . Bukannya mengajari hal yang tidak baik, tetapi menyadarkan seorang ibu yang suka marah-marah hanya karena menumpahkan air saja.
Kamu itu ya, pelan-pelan sih. Kan sayang kalau airnya tumpah gitu.
kenyataan terpahit, ternyata ibu saya lebih sayang terhadap air yang tumpah dari pada anaknya yang imut nan cantik jelita ini kemudian saya minta maaf sama air yang tumpah.
Airrrrr...maaf kan dakuuuu..
dan lagi ibu saya mengomentari tingkah laku saya tadi.
Kok kamu malah minta maaf sama air? tanya ibu saya
Lho? tadi kata ibu sayang sama airnya? jawab saya
Ibu saya berfikir sejenak.
Iya, memang sayang airnya, tapi kamu gak usah bertingkah kayak orang gila gitu dong, jawab ibu saya
Jelas saya melengos. Ibu saya ini terlalu baik sama air dari pada anak sendiri. "Sayang airnya" dan "kamu gak usah bertingkah kayak orang gila". Terlalu baik dengan air pun tidak baik, bisa membuat pertengkaran antara ibu dan anaknya.
Kemudian, siang tadi saya, adik perempuan saya dan bapak saya pergi ke salah satu mall di bilangan jakarta pusat. Parkiran untuk mobil di mall itu sudah sangat penuh, jadilah kami berputar-putar di parking area. Saya berdoa, semoga nggak sampai 7 kali putaran, kalau sampai 7 kali putaran jadi nyamain thawaf di Ka'bah dong. Kalau thawaf di Ka'bah sih dapet pahala,,nah kalau thawaf di parkiran? cuma dapet pegel dan pembesaran betis kiri.
Syukur Alhamdulillah,akhirnya ada mobil yang ingin keluar di putaran kedua kami dan penderitaan di betis kaki kiri pun berakhir (padahal yang menyetir itu bapak saya) serta penderitaan saya dan adik saya yang jadi objek kekesalan bapak kami yang mungkin sudah pusing muter-muter parking area juga ikut berakhir. Kami sudah menentukan sasaran tempat parkiran itu, kemudian saya terkejut dengan bapak yang tiba-tiba membawa mobil maju melewati tempat parkiran yang kosong tadi.
Lho, pak, kok maju?, tanya adik sayaMobil yang dibelakang mau turun kali. Pikir bapak.
Saya menengok ke kaca belakang. Mau turun dari Hongkong?? Tuh, mobil sedan yang di belakang mobil kami malah mengambil tempat parkiran yang sudah jadi sasaran kami.
Dia juga mau parkir kali,pakkk. Ujar saya dengan gereget
Oh, dia mau parkir juga ya? Ujar bapak
dengan psrah, akhirnya mobil kami kembali memutar ke tempat parkir yang diatas. Bapak lagi-lagi mulai dengan "pidato" nya. Akhirnya, mobil kami dapat tempat parkiran di parking area paling atas. Kalau harus turun dan memutar dari bawah lagi, saya akan memberi pendapat untuk ke mall yang lain. Walaupun adik saya -yang kepengen banget ke mall itu- menangis darah.
Akhirnya, aku bilang kepada bapak saya,
Pak, jangan terlalu baik dengan orang dong,,kan gak baik, kayak tadi contohnya. Dikira bapak tuh mobil sedan mau turun keluar,,tau-tau nya lagi nyari parkiran kayak kita juga. Karena, kesempatan itu gak dateng dua kali, pak.
Kesempatan nyari tempat parkir gitu.
Dan saya mendapatkan kesimpulan, terlalu baik juga tidak baik. Dan saya mengerti perasaan Raditya Dika ketika menulis artikel itu. :D
Komentar
Posting Komentar