Liburan kali ini benar-benar sangat mengesankan di hati mereka berempat, kepernikahan teman terus ketemu sama teman-teman yang lainnya dari Pondok Muslihin. Mereka hamper tidak menyadari hampir semua teman-temannya telah berkeluarga.
“Oh my God, we are back to campus lagi deh” Keluh Ririn
“Nggak apa-apa bentar lagi gue kan di wisuda, Rin” Ujar Yanda.
“Oh iya, let’s keep our spirit ok? Inget, going up to the spirit….” Ujar Ririn sambil memandang teman-temannya.
“IN THE SKY !!” Teriak mereka serempak.
“Jadi inget waktu muhadhoroh di kelas IPS” Ujar Riris.
“Iya, IPS Gareth Gates. Tuh, si Popi” Ujar Yanda.
Mereka tertawa bersama, sesuatu yang telah lama mereka inginkan. Kembali berkumpul dan tertawa.
“Kalau lagi ngumpul-ngumpul gini ane jadi inget ifay deh” Ujar Ririn.
“Iya, dia nggak ada kabar setelah dia berangkat ke Australia” Ujar Yanda.
“Semoga aja dia juga bahagia disana” Harap Popi. Semua mengganguk tanda setuju dengan perkataan Popi.
***
Suasana jam 11.00 pagi sangatlah panas sehingga membuat malas untuk mahasiswa untuk seukuran Popi Nisrina Ayumi yang sedang berjalan ke Gedung Universitas Gadjah Mada. Entah angin apa yang membuatnya untuk memilih kuliah di jurusan akuntansi . Padahal walaupun dulunya dia anak IPS , tetapi, dia jago pelajaran IPA-nya juga lho. Kalaupun dia mengikuti tes di UI fakultas kedokteranpun, dengan izin Allah dia bisa dapat beasiswa.
Yah, begitulah keputusan Illahi, terkadang tidak sama dengan kemauan kita.
“Hei, Pop !!” Sapa Vera dari belakang Popi.
“Hei juga, gimana liburan kamu?” Tanya Popi sambil menjabat tangan Vera.
“What a nice holiday !!! Aku ketemu orang cakep, dia kuliah di UI fakultas kedokteran lho” Ujar Vera dengan ciri khas gayanya. Supel.
“ Emang sih, pertama kali gue kenalan tuh cowok culun banget, tapi, pas gue tau dia sebenernya gentle, wah, dia kok kayak Rambo banget” Ujar Vera, Popi hanya tersenyum ‘ mau gentle kek, mau culun kek, emang gue pikirin’
“Dia cool banget,Pop. Ohya lu kayaknya juga tau siapa orangnya Pop”
“Lho?” Popi binggung.
“Iya, dia cerita ke gue, kalau dia alumni Pondok Muslihin juga. Gue langsung nanya aja, kalau dia kenal dengan Popi nggak. Eh, dia jawab dia kenal lo, Pop”
Ujar Vera.
“Siapa yah?” Tanya Popi.
“Namanya Yusuf, Pop” lanjut Vera.
“Yusuf siapa yah?” Ujar Popi aneh.
“Gimana sih lo? Teman se angkatan gitu lo lupain?” Vera menggelengkan kepalanya.
“Yee, emangnya gue kamus ikhwan waktu di Pondok” Ujar Popi dan meninggalkan diri Vera. Vera mengangkat alis kanannya.’Pop, masa lu nggak kenal, padahal dia sering cerita elu terus tau’ Batin Vera.
***
Popi Nisrina Ayumi. Siapa sih yang enggak kenal dia? Orang ‘aneh’ dari Bekasi, dia dibilang ‘aneh’ karena kejeniusannya membuat dirinya menjadi aneh. Anak semanis Popi, siapa sangka kalau banyak yang ngincer dia. Tapi, sayang, dia anaknya cuek abis !!! Kira-kira sih seperti itu ^o^.
Popi pulang dari kampus naik motor honda Revo-nya. Tanpa di sadari Popi, sepasang mata sinis memandangnya, dengan pandangan yang penuh amarah.
Oh, wanita itu yang menggangu semua rencanaku?
“Bos, ada informasi tentang anak tengik itu” Ujar seorang laki-laki yang berwajah codet.
“Oh, it’s great. Tell me !!” Ujar wanita bule itu sambil membuang rokoknya.
“Namanya Popi Nisrina Ayumi, mahasiswa UGM. Dia juga aktiv di organisasi kampusnya, menjabat sebagai sekretaris. Lalu ….” Bandit itu menyipitkan matanya, ragu-ragu untuk mengatakannya.
“Hei ! teruskan, bodoh !!” Sentak wanita itu membuat sang bandit bercodet itu kaget.
“Eng, dia alumnus Pon Pes Muslihin” Ujar bandit itu. Wanita itu menautkan alisnya. Oh, sekarang aku tahu, ternyata kalian satu sekolah..
“ Cukup, sekarang saya tahu, Popi gadis pujaannya. Lihat saja, jika dia tidak mau menikah denganku, Yah.. Popi sang gadis pujaannya akan celaka” Ujar wanita bule itu dengan senyum sinisnya. Wanita bule ini masih saja terfokus dengan gadis manis, Popi.
Di kejauhan sana, wanita itu dengan sepasang mata tajamnya terus mengawasi gerak-gerik Popi, ia menyeringai dengan aura hawa kejahatan menyelimuti dirinya. ‘Oh, gara-gara dia , pernikahan saya tertunda’ geramnya. Beberapa detik kemudian, ia memasuki BMW merah dan melaju dengan cepat.
Popi menekan tombol pada hp nya.
“Assalamualaikum,Ris?” Tanya Popi.
“Waalaikumsalam, ada apa, Pop?” Tanya Riris.
“Ris, ane mau nanya, emang ada ikhwan yang namanya Yusuf waktu di pondok?”
“Yusuf yang mana?”
“Emangnya ane tau, ane kan nanya ke ente”
“Kata Vera dari Bekasi, tapi, kok ane nggak tau ya?”
“Yusuf? Dari Bekasi? Sepertinya…… ohya mungkin dia Yusuf al Karomi.”
“Oh, itu. Yang sering kita katain Ucupnye?”
“Yoi, entu die”
“Tapi, kata Vera dia gentle tau. Masa muka kayak Mr.Bean aja di bilang gentle”
“Hei Pop, Everything has changed and we never knew”
“Ok! 4 tahun telah berganti. Aku setuju everything has changed”
“Time changes,people changes..”
“Yup, aku udah tau ,dan makasih atas pencariannya”
“Sama-sama”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” Jawab Riris sambil menngelengkan kepalanya. ‘Popi, ente nelpon dikira ada apaan, taunya Cuma nanya si Ucup’ batin Riris
***
“ Jay, saya sudah tahu, tentang gadis itu” Ujar wanita perawakan indo, Belanda-Jerman.
”Terus?” Tanya Jay
“Oh my God, kamu lebih memilih gadis kecil manja itu dari pada saya? Oh no, pakai jimat apa sih dia, sampai memikat dirimu?” Tanya wanita itu.
“Tahu apa kamu tentang dia? Jangan pernah meremehkannya”
“Jay, apa kekurangan saya? Aku telah menyelesaikan S-2 dengan cepat, cantik, lebih eksotic dari pada gadis itu”
“Banyak sekali kekuranganmu, Jennie” Ujar Jay.
“Alright, terserah, jika kau tidak memutuskan pilih saya atau orang itu dalam tiga hari ini, maka saya akan memberi tahu ibumu yang sedang diopname itu, mengertii ?? dan satu lagi gadis pujaan mu akan celaka. Ingat baik-baik, Jay !! ”Ancam Jennie kepada Jay dan keluar sambil membanting pintu ruangan Jay.
‘Ya Allah, kenapa aku harus begini? Menyebalkan, kenapa mama harus memilihkan Jennie sebagai calon istriku? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?’ batinnya – masygul-
Di sisi lain Jay tengah menyukai seseorang, seseorang yang telah dia lama tunggu. Kini Jay tinggal menunggu wisuda ‘kasih tak sampai’nya. Jay sangat mencintai gadis itu dengan seluruh isi hatinya. Jay menekan tombol hp nya.
“Assalamualaikum, Dam, aku tunggu kamu di Mustaq Café, besok”
***
“Haloo, dimana kamu,Ver?” Tanya Popi yang dari tadi menunggu Vera di Plaza La Tansa.
“Iya, sebentar. Ini si Yusuf susah banget di ajaknya” Ujar Vera di seberang sana.
“Hah? Ente ajak Yusuf?”
“Iya, biar lu inget”
Popi menhembuskan nafasnya. ‘Nih orang ngaco banget pikirannya’.
“Ya udah, terserah deh, kalau kamu nggak datang 5 menit lagi. Aku pulang.” Ujar Popi.
“Pop, tunggu..” ..tuut … tuuutt..tuut
“Sialan ! di matiin” Runtuk Vera pada hape nya.
“Ver, lepasin dong. Aku sama kamu kan nggak mahram.” Ujar Yusuf agak risih Vera memegang lengannya. Vera melongos, ‘mahram?? Makanan baru yah??’ pikirnya –disconnecting- tidak mengerti.
***
Al-Mustaq Café.
“Kenapa sih, Jay? Tumben banget ente traktir aku di café.” Tanya Adam cengengesan. Jay hanya tersenyum sebentar, Adam merasa aneh dengan temannya yang satu ini. Ada apa ya, wajahnya kok lesu banget? .
“Dam, langsung aja deh. Sejujurnya gue mau ngomong sesuatu ke elo, tapi, please ! gue serius.” Ujar Jay sambil mengaduk-aduk jus tomatnya. Wow, serius?
Adam mengangguk mengerti.
Akhirnya, cerita menyedihkan yang membuatnya bingung mengalir bagai air dari mulut Jay. Sesekali Adam mengomentari cerita Jay ataupun tersenyum memandang Jay. Jay memaki-maki dirinya, menyesali telah mengenal Jennie yang dia kira dapat mencintainya dengan setulus hati Jennie. Ternyata, wanita itu mencintai diri Jay hanya untuk memiliki hartanya saja. Sementara Adam hanya diam dan senyum-senyum saja memandang temannya. Jay, menarik nafas lega karena dia telah mengungkapkan apa yang dia ingin ungkapkan.
Lama mereka terdiam,
“Dam, kok diam sih?” Tanya Jay bingung, melihat temannya yang asyik dengan jusnya. Dia dengerin gue ngomong gak sih? Batin Jay. Adam tersenyum memandang boss pemilik suatu perusahaan swasta.
“Jay, really deh. Kamu tuh aneh, kamu kan pernah di pesantren. Masa, soal kecil begini elo jadi putus asa?”
“I know it. But…”
“Jay, hidup dan mati seseorang telah ditentukan oleh Yang Maha Pencipta. Sudah ada skenarionya sendiri dari diri setiap manusia yang hidup, sekarang bagaimana manusia menyikapinya.” Jay hanya mengerutkan dahinya.
“Dan…manusia harus ikhlas menerimanya. Sang Pencipta nggak mungkin nggak adil sama mahkluknya. Buktinya setiap manusia ada yang jahat, pasti ada yang baik, ada yang miskin pasti ada yang kaya, ada laki-laki pasti ada perempuan. Wah, sepertinya elo harus mencari ilmu ikhlas deh !”
“Kayak film Kiamat Sudah Dekat aja”
Ujar Jay agak tersenyum.
“Ane paling seneng tuh sama film itu, ngajarin kita bagaimana harus menerima segala sesuatu yang kita nggak suka secara ikhlas. Satu kata yang terdengar sepele tetapi, maknanya sangat-sangat luar biasa. Yah, solusi masalah lo adalah lo harus mempunyai dan menjaga sebuah keikhlasan hati lo untuk menerima segalanya. Trust that !”
Jay menyenderkan tubuhnya di bangku sambil menghela nafas. Matanya menatap Adam, Adam membalasnya dengan tatapan untuk meyakinkan Jay bahwa semuanya akan berlalu. Yah, yakinlah bahwa badai pasti berlalu, yang tinggal dipikirkan bagaimana caranya agar badai berlalu tanpa melukai kita. Kita harus mempunyai tameng yang kokoh dan kuat. Tameng itu bernama iman dan taqwa dengan disertai keikhlasan yang tangguh dan tawakal yang senantiasa menemani.
***
Popi berjalan menyusuri Plaza LaTansa. ‘Dasar deh si Vera akhirnya dia pulang duluan, gara-gara Yusuf ngancem kalau Vera masih keukeuh mau temukan aku dan Yusuf, dia nggak mau bertemanan dengan Vera. Hihihi… kayak anak kecil deh mereka’ batin Popi ketawa sendiri. Kakinya terus melangkah tanpa tujuan, melihat baju-baju, sepatu-sepatu. Tetapi, akhirnya dia melangkah ke toko buku.
Biasa deh,si Kutu Busuk ni,eh, Kutu Buku mau beli buku novel islami.
Sudah 2 jam Popi mengelilingi Plaza LaTansa. Saking lamanya mungkin dia sudah mengelilingi plaza itu lebih dari tujuh kali. Thawaf kaleee...
”Sialan nih anak ga nongol-nongol!” umpatnya dalam hati.
Akhirnya Popi memutuskan untuk pulang dari pada jalan nggak ada tujuan. Baterai MP4 nya juga udah lowbatt. Suasana plaza juga semakin menjenuhkan dirinya. There’s no reason to stay this plaza.
Tiba-tiba dia melihat dua orang kantoran keluar dari Mustaq Cafe. Sepertinya dia mengenal kedua orang itu tapi, entah kapan dia melihat mereka. Tetapi sayang, Kedua orang itu tidak melihat Popi yang berada di belakang mereka. Whoever ! Desisnya dalam hati. Masa bodoh.
Pertemuan awal telah dimulai, bermula darimana manusia menyadari bahwa dunia itu benar-benar sempit.
Komentar
Posting Komentar