Langsung ke konten utama

Catatan Kakak Kepada Adiknya.

Dia semakin tumbuh dewasa, dari segi apapun, tubuh, wawasan, paras, begitu juga dengan perasaan. Adik gue ini emang nggak bisa diajak erhaes erhaes-an, dari dulu, dari jaman baru dia bisa ngomong. Cerewet. Suka keceplosan. Tapi dia tetep asik kalau diajak ngobrol, apalagi sampai 'nendang-nendang'. Adik gue ini suka pedes kalo ngomong, bisa terlihat dari sikapnya yang cuek.

Adik gue ini bergolongan darah A. Siapa sih yang nggak tahu, kalau orang yang golongan darahnya A adalah seorang perfeksionis. Saking perfect-nya, adik gue ini kalau ngaca, lamanya selangit. Pilih-pilih baju juga lama, terkadang malah milih baju gue. Dia itu nggak bisa menggambar, cuma bisa mewarnai. Jadi, kalau ada tugas menggambar Poster dari kampusnya, dia selalu minta pertolongan dari gue.

Adik gue ini selain perfeksionis, dia seorang kritikus, lebih tepatnya tukang ngomentar yang nggak ngapa-ngapain. Contohnya, pas dia ada tugas bikin poster untuk penyuluhan gizi, dia meminta pertolongan ke gue. Gue itu macam manusia yang nggak balance, yang nggak butuh penggaris ketika menggambar garis-garis. Dia terus komentar, "Kak, itu miring.", "Kak, itu kok gitu sih?". Kakak ini dan itu. Seharusnya dia bersyukur karena mempunyai kakak yang super sabar macam gue.

Adik gue juga manja dan keras kepala. Manja dan keras kepala ini adalah penyakit para bontot. Dan gue sebel sama penyakit dia itu. Dia nggak pernah mau ngerti nasihat dari gue. Gue ini cukup begajulan tanpa banget, dan gue nggak mau adik gue ini sama kayak gue. Dia kudu jadi wanita yang keren. Keren disini mencakup semua hal-hal yang positif dari kehidupan.


Bagaimanapun dia tetep adik gue yang gue sayangi. Dia jadi temen gue, dari bangun tidur sampe mau tidur. Setiap mau tidur, kita selalu bercerita ini dan itu, kalaupun salah satu dari kita udah tidur duluan, kita ngobrolnya pagi-pagi. Ohya, gue sekamar sama adik gue, dan adik gue nggak mau pisah kamar, kalo2 rumah gue ini dirombak dan gue punya kamar sendiri. "Aku pokoknya mau sama kakak." Ah, kata-kata itu bikin gue terharu biru. Berarti dia nyaman sama gue, walaupun kita suka berantem juga. Di mata gue, dia tetep adik yang paling imut, pas cemberut atau ngambek, dia tetep imut. 

Sekarang, dia lagi di Purwokerto, kepentingan PKL. Gimana coba rasanya, di rumah sepi, nggak ada yang komentar, nggak ada yang teriak pagi-pagi "Kak, aku pinjem baju kakak ya!", nggak ada yang main bales-balesan mukul sama Bapak, nggak ngeliat muka asem-nya adik gue setiap pagi. Kehilangan. Dia merantau selama 3 bulan.

Sampai pada sebuah titik. Dia jatuh cinta. Gue terkejut bukan kepalang eh bukan main, pas dia ngomong  - via HP- sama nyokap, katanya dia mau nikah. Nyokap sama Bokap disuruh cariin suami buat gue, yang gue sampe saat ini bertakdir sebagai wanita-yang-demen-jomblo. Jomblowati seperti peguyuban wanita yang nggak laris tapi limited edition. Hahhaa..
Gue sadar, adik gue ini udah besar, yang suatu hari nanti punya kehidupan sendiri, sama kayak gue. Tapi, gimana dong, Jal? aku masih suka sama Jun. K dan Abang Icul.. Tahun depan ya.. Insya Allah.

Kakak. :)

Komentar

  1. هذه هي حق الحيات بين أختين.......لا شك فيه أن هذه من نعمته العظيمة

    BalasHapus
  2. Aamiiinnn... Indonesia banget ya.. =]

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memang TERLALU BAIK itu TIDAK BAIK

Hari minggu adalah hari yang pas -menurut saya- untuk bangun lebih siang dari biasanya sampai membuat ibu saya berteriak, Aduhhhh...bagus banget perawan bangun sianggg!! dan saya hanya memutar badan saya sambil menutup telinga dengan guling saya. Ah, apa saya sering bilang dalam hati ibu saya adalah orang yang cerewet, jadi aja ibu saya makin cerewet. Semua yang saya kerjakan diprotes mulu. Mau protes balik terang-terangan bagaimana...beliau kan ibu saya, bisa-bisa dikutuak jadi batu saya layaknya malin kundang.