Langsung ke konten utama

This Is Us


Apa kata kerja yang paling mengerikan dalam kehidupan? Ya tentu saja, MENUNGGU. Apa yang enak dari menunggu itu. Menunggu dapet gaji, waktu sebulan serasa seabad. Menunggu teman 10 menit aja, terkadang sudah seperti menunggunya dari zaman batu. Menunggu jodohpun begitu, yang terjadi hanyalah luka bukan bahagia. Tetapi, hidup ini harus "menunggu" dalam arti memberi kesempatan untuk orang lain. Seperti yang sedang aku lakukan saat ini, sesekali melihat jam kemudian melihat jalanan, mataku rasanya menjadi buta warna secara mendadak, helm semua pengendara motor menjadi warna merah. Ingin menelepon pun, tidak bisa karena aku tidak ingin mengganggu konsentrasinya ketika mengendarai motornya. Aku menghela nafas dalam. Aku sudah menunggunya dari setengah jam yang lalu. Tunggu saja pembalasanku nanti. 

    "Ciiitttt" sebuah motor berwarna merah darah berhenti dihadapanku. Pengendara itu membuka helmnya yang juga berwarna merah sambil tersenyum, aku membalasnya dengan senyuman acuh.
    "Haii!! Kita udah lama gak ketemu, tolong jangan cemberut seperti itu." ucapnya sambil memakaikan helm ke kepalaku. Mataku tertuju pada sesuatu yang dibelakang punggungnya.
    "Lagi. Kencan membawa gitar kesayangan. Kalau mau bawa gitar, kenapa kamu nggak naik mobil aja? Kamu ini, hobi banget ya ngerjain aku." ucapku datar agak kesal. Lelaki didepanku ini hanya tertawa kecil.
    "Aku punya lagu bagus buat kamu. Kali ini spesial, karena ciptaan aku." ucapnya semangat. Aku dengan terpaksa menggendong gitar tersebut sambil cemberut. Ketika aku duduk dibelakangnya, lelaki itu memutarkan kepalanya, memandangku. Kemudian kedua tangannya mencubit pipiku sambil berkata, "Naneun bogo sipeo sseo".
    "Aku tahu itu. Ayo pergi." jawabku sekenanya sambil menarik jaketnya yang agak longgar tersebut.
    "Jawaban macam apa itu?" ucapnya sambil tertawa kecil, kemudian menyalakan mesin motornya. Hawa akhir musim semi ini begitu indah, segalanya terlihat menyenangkan.



Aku Hana Rahdiansyah ,itu adalah namaku yang sebenarnya, aku adalah warga negara Indonesia asli tetapi karena Ayahku beberapa tahun yang lalu ditugaskan dari perusahaannya untuk mengelola perusahaan cabang di Korea Selatan, aku beserta adik perempuanku ikut berimigrasi dari Indonesia ke Negeri Gingseng ini, karena pada saat itu aku berumur 16 tahun dan adik perempuanku berumur 9 tahun. Ibuku sudah meninggal ketika melahirkan adik perempuanku, Sinta Rahdiansyah. Aku memiliki nama Korea selama aku tinggal di Seoul, Park Hana . Kami sudah tinggal di Seoul selama lima tahun, aku pun sudah bisa beradaptasi dengan warga Seoul dengan baik. Aku mempunyai namjachingu, namanya, Lee Woo Jin. Kami sudah menjalin hubungan ini sejak 2 tahun yang lalu. Awal pertemuan kami agak tidak baik karena dimulai dengan kesalahpahaman. Woo Jin bilang, kesalahpahaman itu terjadi karena kesalahanku, tapi aku tidak sependapat dengan dia. Dia awal tahun aku tinggal di Seoul, aku melintasi daerah Myeongdong, aku melihat seorang laki-laki sedang memetik senar gitarnya, sesekali dia mencoba untuk menyanyi. Ketika suaranya keluar dari beat musik, dia mencoba ulang dari awal kembali. Matanya ramah menyapa orang-orang yang sedang melintasi dirinya. Rambutnya terlihat berantakan diterpa angin. Aku mendekati lelaki itu dan mengeluarkan beberapa uang receh dari kantong jaketku, kemudian dengan percaya diri aku memujinya dengan bahasa Inggris, "You sing well" dan memberikan uang receh yang aku genggam ke tangan dia. Dengan cepat wajahnya yang putih berubah menjadi merah padam, sambil menatap tajam kearahku dan berbicara dengan bahasa korea. Mendadak wajahku kaku karena kaget serta bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya mendekatiku dan meraih tanganku dan dia mengembalikan uang receh yang aku berikan untuknya. Aku cepat menanggapinya dengan berkata, " I'm s-s-s-sorry." dengan terbata-bata kepadanya. Entah dimaafkan  atau tidak, lelaki itu kemudian pergi dan menghilang diantara orang-orang yang sedang berlalu lalang. Aku menepok jidatku berulang-ulang kali. "Ah, apa yang telah kamu lakukan Hana? mau mati di negeri orang apa?" ucapku dalam hati.

Ternyata aku bertemu kembali dengan laki-laki itu di lapangan sekolah setelah beberapa minggu dengan kejadian itu. Saat itu, sebuah bola mengenai punggungku sehingga membuat seragamku kotor. Seorang laki-laki menghampiri sambil meminta maaf kepadaku, ketika kami saling menatap, aku terkejut melihatnya, sedangkan dia menatapku dengan tatapan biasa. Ya, saat itu aku berharap dia tidak mengingat kejadian di Myeongdong. Aku menarik nafas lega ketika laki-laki itu menjauh dari diriku.

Perasaan tidak enak seperti itu, kembali lagi ketika sekolah kami mengadakan MT dan laki-laki itu menjadi salah satu panitia MT dari kalangan alumni sekolah. Masih ingat dibenakku, ekspresi marah yang mengerikan dari wajahnya saat di Myeongdong. Yahh, pasti kali ini dia tidak akan menginagatnya karena itu sudah kejadian setahun yang lalu. Pada saat MT, aku baru tahu kalau orang itu menjadi Sunbae (senior) yang populer dikalangan kaum wanita.Teman dekatku Hwang Geum Ah memberi tahuku, karena dia juga menyukai laki-laki itu. Pagi menjelang aku terbangun lebih pagi dari pada teman-temanku, itu karena aku tidak ikut acara pada malam hari karena aku sudah tertidur. Aku merapatkan jaketku ketika aku membuka pintu vila, udara dingin di pertengahan musim gugur membuat aku memakai tiga lapis baju. Aku mulai berjalan mengikuti jalan setapak didepanku sambil melihat pemandangan desa yang sangat menyegarkan. Tiba-tiba aku mendengar suara gitar dari kejauhan, aku mencari sumber suara tersebut. Ternyata dia adalah Jae Jin sunbae yang sedang memainkan gitar. Aku menghampirinya untuk menyapanya.
     "Annyeonghaseyo, Sunbaenim." ucapku sambil membungkukkan badan. Suaraku ternyata mengejutkan Jaejin sunbae.
     "Oh, annyeonghaseyo. Sudah bangun ya? duduk sini." ucapnya seraya tersenyum. Aku menganggukan kepalaku dan membalas senyumnya. Ah, sunbae ini emang oke di mataku.
     "Kalau boleh tahu, sunbae sedang apa disini sendiri?" tanyaku sambil duduk disampingnya.
     "Sedang bernyanyi sendiri saja. Sambil mencari inspirasi." ucapnya sambil memainkan gitarnya dengan asal, mencari melodi yang baik.
     "Oh.." jawabku sambil mengangguk-anggukan kepalaku. Kemudian dia tertawa melihat wajahku.
     "Kenapa ketawa, sunbae?" tanyaku bingung.
     "Tidak apa-apa. Kamu lucu juga." Ucapnya sambil meredakan tawanya.
     "Sunbae dari tadi sendiri saja disini?" tanyaku iseng, mencari topik pembicaraan.
     "Tidak. aku ditemani seorang teman."
     "Ah! Hyeong! Ini aku bawakan ramyun." Tiba-tiba pemilik suara bariton itu muncul dari samping Jae Jin sunbae. Aku dan Jae Jin sunbae terhentak kaget.
     "Woo Jin-ah, kamu bikin kaget saja." ucap Jae Jin oppa sambil merangkul bahu laki-laki disampingnya dengan akrab. Ketika aku melihat wajah laki-laki disamping Jae Jin sunbae, rasanya aku ingin menghilang dengan sekejap dari tempat itu. Geu namja (laki-laki itu).
     "S-sunbaenim, sepertinya aku lebih baik pergi saja." ucapku sambil berdiri siap mengambil langkah seribu menjauh.
     "Mau kemana? Sini makan ramyun dulu. Woo Jin membawa ramyun sepanci besar ini, cukup untuk kita bertiga kok" tawar Jae Jin sunbae kepadaku. Aku melirik kearah Woo Jin sunbae -lelaki yang bertemu aku di Myeongdong-. Jae Jin sunbae menagkap ekspresiku yang khawatir.
      "Jangan takut, Woo Jin memang seperti itu wajahnya. Dia tidak akan memakanmu kok. Woo Jin-ah! Kenalkan ini Hana-ssi." ucap Jae Jin sunbae. Kemudian Woo Jin menatapku, tatapannya dingin tetapi dia tersenyum ramah. Dia hanya menganggukan kepalanya. Aku pun juga menganggukan kepala terhadapnya. Akhirnya, kami pun sarapan dengan ramyun. Dari sana aku tau kalau umur aku dengan WooJin sunbae terpaut 5 tahun dan dengan JaeJin sunbae terpaut 6 tahun. Sesekali aku melirik Woo Jin sunbae dengan perasaan khawatir. Woo Jin mengambil gitar yang tergeletak di atas meja, kemudian menyanyikan lagu yang entah apa judulnya, aku tak begitu paham, namun enak didengar. Suara Woo Jin sunbae yang sekarang jauh lebih baik dari yang di Myeongdong. Kemudian, handphone ku berbunyi, ketika aku mengeluarkan handphone dari saku jaketku, beberapa uang receh terjatuh dari saku jaketku. Woo Jin sunbae menghentikan jari-jarinya yang sedang menari indah diatas senar dan segera membantuku mengambil recehan tersebut -Ohya, pada saat itu Jae Jin sunbae sedang ke dalam vila untuk mengambil beberapa snack dari tasnya-. Ketika dia memberikan uang receh itu kepadaku, dia berdiri diam sejenak dihadapanku.
      "Apa kita pernah dalam situasi ini, Hana-ssi?" tanyanya sambil menatapku lurus. jantungku berdegup kencang.
      "Aku rasa tidak sunbae" ucapku mengontrol ekspresiku. Woo Jin sunbae akhirnya memberikan uang receh itu untukku dengan tatapan misteri.
      "Terima kasih, sunbae" Ucapku sambil menjauh dari Woo Jin. Ini akan buruk, kalau aku tetap disana. Aku mengambil langkah-langkah yang cepat.
      "Tunggu, Hana-ssi. Aku ingat! kita pernah bertemu di suatu tempat!" teriaknya, tetapi aku pura-pura tidak mendengarnya tetapi Woo Jin berlari ke arahku. "Tamatlah aku" ucapku dalam benak.

-to be continue-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memang TERLALU BAIK itu TIDAK BAIK

Hari minggu adalah hari yang pas -menurut saya- untuk bangun lebih siang dari biasanya sampai membuat ibu saya berteriak, Aduhhhh...bagus banget perawan bangun sianggg!! dan saya hanya memutar badan saya sambil menutup telinga dengan guling saya. Ah, apa saya sering bilang dalam hati ibu saya adalah orang yang cerewet, jadi aja ibu saya makin cerewet. Semua yang saya kerjakan diprotes mulu. Mau protes balik terang-terangan bagaimana...beliau kan ibu saya, bisa-bisa dikutuak jadi batu saya layaknya malin kundang.