Dalam kurun waktu yang begitu lama, hmm..mungkin agak lama. Dia akhirnya mengirimkanku sebuah pesan singkat lewat handphone, "Ini aku, boleh aku meneleponmu sekarang?" aku membaca sms itu dengan mengerutkan keningku. Apa ada yang harus aku bantu atau apa. Atau mungkin dia akan membahas masa lalu? apapun itu aku tidak berani berpikir jelek terhadap dia yang pernah baik denganku (untuk sekarang aku tidak tahu). Aku membalasnya dengan singkat, "Boleh, telepon aku jam 9.30pm" ya, send!
Jam 09.30 pm, tepat dia meneleponku, dia menyapa dengan suaranya yang begitu kaku, mungkin karena terlalu lama kami tidak berkomunikasi, aku yang mendengar suaranya yang kaku itu hanya menahan tawa. Ya, mendengar suaranya saja sudah membuatku tertawa, aku mungkin sedikit gila. Dia berkata "saya" dan itu membuat risih dipendengaranku, dia menanyakan kabarku, hmm..mungkin harus begitu tata caranya, tapi bagiku itu hanya basa-basi. Aku jawab seadanya dan aku langsung memotong basa-basi tersebut, "ada apa? ada apa? tumben nelpon" maksudku biar langsung aja keintinya, basa basi is kinda tiresome. Dia kemudian agak terdiam, 'ini serius, tolong jangan tertawa' ucapku pada diriku sendiri. "saya minta maaf" kata-kata itu meluncur dari mulut dia, semoga dari hatinya juga.
Dia menceritakan ini itu di masa lalu, iya dia yang seharusnya sudah ending diceritaku kini kembali menyapa, tetapi aku hanya bisa tertawa dalam hati, 'aigoo~cute'. Rasa yang dulu pernah ada dan yang sekarang tentu berbeda, mungkin dulu aku akan yang kegirangan, senyum mulu setiap dia berbicara, padahal aku gak ngerti sama sekali pembicaraannya. Tapi sekarang yang ada adalah senyum lega dan tawa yang ringan. Temanku pernah berkata, kalau berdamai dengan masa lalu sebenarnya mudah. Mungkin ini yang dimaksudnya, rasa lega yang tercipta setelah perang dingin usai, ketika kita tidak memperdulikan dendam, ketika kita lebih menerima takdir, ketika kita bisa menerima suatu pukulan dengan pembelajaran yang berharga. Ketika kita mendapati luka tapi kita membalasnya dengan tawa. Leganya hati. Dia terus meminta maaf kepadaku, entah untuk mendramatis atau tulus darinya, tapi untukku terdengar cukup tulus, kemudian aku berkata dalam hati, "tuhkan, kalian harus dengar ini, dia orang yang baik bukan?" kalimat ini untuk teman-temanku.
Teman-temanku selalu melihatku bodoh akan dia, tapi aku nggak bisa nge-judge orang seenak udel dengan melihat dari yang buruk-buruknya, setiap orang pasti punya sisi baik. Yaaa..mungkin aku terlihat bodoh karena aku melihatnya dari sudut cinta. hahaaa.. it's an old thing.
Kembali lagi, aku berusaha mencairkan suasana obrolan kami dengan sedikit candaan, aku orang yang tidak terlalu suka dengan sesuatu yang begitu formal apalagi sebenarnya kami adalah teman sejawat. Yaa..kami tertawa bersama lagi tapi dengan rasa yang berbeda. Ini adalah ending dari dia, dari semua cerita yang pernah dia berikan. Seharusnya dia mengakhirinya a couple years ago. Hehee..seharusnya aku sudah tidak membicarakan hal ini kembali, tapi jujur, aku menyukai segala cerita tentang dia. Aku suka dengan hal-hal baru yang aku temukan ketika kami bersama. Tapi...
Ini adalah akhir dari cerita kami. Akhir dari ceritanya. Entah harus happy ending atau sad ending, kita melakukan akhir yang cukup baik. Untuk dia, terima kasih sudah meminta maaf, sebenarnya hanya itu yang mengganjal tidak perlu lagi kamu menjelaskan apa-apa, kita sudah cukup dewasa dalam menghadapi masalah, tidak perlu juga aku marah-marah karena ini takdir dari Tuhan bukan?. Annyeong. Selamat tinggal. I hope you happy always. ^o^
Komentar
Posting Komentar