Langsung ke konten utama

Cerita Malang: Day 3 - Batu Night Spectacular

    Tanggal 30 Juni 2013. Bangun pagi, badan terutama kaki, sakitnya minta ampun serasa abis treadmill berjam-jam, otot kaki, tangan, perut semuanya ketarik. Butuh tenaga ekstra buat jalan saat ini setelah nge-rapel jalan di Sempu. Masih mending jalan, kalo udah naik turun tangga, rasanyaaaa tak terhingga~ hahhaa. Tapi, aku masih dalam perjalanan liburan, sakit yang kayak gini tolong abaikan, nanti aja jejeritannya pas di Jakarta. Oke sip.
  Setiap pagi, kita selalu sarapan di *kalo kata Diqi* Inne Cafe. Selanjutnya, kita membicarakan acara hari ini, entah mau kemana dan ngapain. Akhirnya, Hike memutuskan untuk nyobain bakso bakar di daerah Malang kota, Pahlawan Trip. Ada kejadian absurd pagi ini, tiba-tiba jalanan di penuhi dengan pak polisi yang sedang berjaga, dengan pemandangan yang seperti ini kita menyimpulkan akan ada razia kelengkapan berkendaraan. Nah, kita berempat, aku, Hike, Diqi dan Husen pakai motor ke warung Mbak Inne tanpa mengenakan helm dan kita kebingungan cara untuk pulang ke kostan. Akhirnya, kita ngumpul dulu di Kostan-nya Diqi yang lebih deket dari Warung Mbak Inne, aku dan Hike berjalan di 'jalur motornya Mbak Inne' mengapa pake tanda kutip? karena itu emang jalur khusus motornya Mbak Inne..Hahaha..bingung,bingung dah. Diqi akan melewati jalur tersebut dengan motornya dan Husen akan membawa motor Hike. Aku dan Hike udah sampe di gapura Areng - Areng, ternyata semakin banyak polisi yang berjaga disana. Hike sms Diqi supaya tidak menggunakan motornya walaupun di jalur Mbak Inne. Kemudian, 'Syunggg' Husen lewat dengan motornya Hike di jalanan besar itu, kemudian dia menoleh ke arah kita dan mengacungkan ibu jarinya kepada kami, seakan-akan berkata 'Tenang aja'.
Yang gak nahannya itu wajahnya yang sok keren tapi dia missing Areng-Areng, membuat kita tertawa terbahak-bahak, entah dia bisa menggunakan wajah cool-nya itu sampai mana, mungkin sampai ketemu polisi di depan? atau setelah dia sadar, kalo dia nyasar? Who knows? Hahaha. Setelah si Husen lewat, eh ternyata ada moge-nya polisi dari lawan arah, sweeping jalan tersebut. Aku dan Hike bertanya-tanya, ada apaan sih? apa ada pejabat yang mau lewat? *akibat kelamaan tinggal di Jakarta, tiap motor polisi lewat pasti ada mobil pejabat setelahnya*. Ternyata eh ternyata ada perlombaan sepeda, entah dari mana dan kemana. Terus aku, Hike dan Diqi -dia akhirnya menyusul kita dengan berjalan kaki- menjadi penonton dadakan, semangat-semangatin peserta yang lewat di depan kita dan foto-fotoin mereka. Tak lama kemudian, jalanan kembali normal dan Husen meneleponku dan mengatakan dia di depan kostan Hike but I thought he's got lost before he went to Hike's boarding house. Hahaha..babo! Beberapa menit, Husen pun muncul di Areng-Areng, jeng jeng dengan nyengir. Pagi itu adalah pagi yang menegangkan sekaligus mengesankan.


Pak Polisi pake Moge

Balap sepeda



      Sesuai rencana, kita akan ketemu lagi jam satu siang di kostan Hike tetapi Husen maupun Diqi tidak menunjukkan keberadaannya, sedangkan aku, Hike dan Ochad sudah siap  di depan kostan, Hakim-pun sudah datang. Kalo nggak salah sih Hakim dipaksa dateng gitu sama Hike, padahal dia dari pagi udah ngelancong entah kemana..Ohya, meteran motornya Hakim udah mencapai 35.000 km loh, padahal baru 2 tahunan punya motor itu. Wahhh..daebak!! :o Pas Hakim dateng dengan wajah cemberut, si Hike bujuk-bujuk dia supaya gak cemberut gitu..hahahaa.. Hike-pun akhirnya gak sabar setelah nunggu Husen dan Diqi yang nggak menunjukkan batang hidungnya. Jam telah menunjukkan pukul 2 siang. Motor Hike mau dipinjem sama temennya yang akan KKN ketika ramadhan, Hike meminjamkannya karena Hike akan pulang kampung ke Pekan Baru, itung-itung ada yang ngerawat motornya selama dia pulkam. Akhirnya Husen dan Diqi pun datang. Kita pun langsung capcus, nganterin Hike ketemu temennya dulu buat ngasih motornya. Ochad pake morin - Motor Arin, Hakim sama aku, Hike naik motornya, Diqi sama Husen. Setelah ketemu temennya Hike, Hike dibonceng Hakim, gegara morin itu rem depannya rada-rada maka Husen sama Ochad, dan aku sama Diqi naek Mbak Satrianya *tuh,qi udah aku masukkin Mbak Satria-nya* pas aku naik, kata Diqi, "Pantesan tadi Hakim ngendarain motornya lama banget, ini sih harus isi angin dulu"
"Beneran,qi mau isi angin dulu?" secara aku sih nyadar body lah. Kemudian Diqi ketawa-ketawa aja. Pas Husen lewat, "Qi, jangan lupa isi angin dulu..". I've got it.

"Ihh..rese..pasti diajarin sama Husen ya?" Ujarku dengan nada agak tinggi. Uhh..si Husen nyebelin.
"Yang sabar ya Mbak Satria.." Ujar Diqi sambil ngelus-ngelus motornya. Aku ketawa speechless. Gak mungkin.
      Oke, aku akan share disini tips Hike kalau mau makan Bakso bakar, dikarenakan bakso bakar itu rada mahal *di Malang* maka Hike beli gorengannya di pedagang kaki lima pinggir jalan, biar hemat, katanya. Gorengan di Malang itu ternyata bukan kayak gorengan yang biasa di Jakarta, Gorengan itu isinya siomay - siomay goreng, trus jual mie, toge dan bihun untuk makan bakso..hahaha..keren ya. Setelah membeli gorengan, kita langsung menuju restoran bakso bakar tersebut. Selama di perjalanan banyak supporter Arema loh, ternyata ada pertandingan Arema vs Persija nanti malam. Wahhh...rame nih Malang. Sampai di restoran, kita memesan bakso bakar yang extra pedas, tadinya aku mau pesan yang pedas aja, tapi kata Hike itu gak pedas, jadilah aku memesan yang extra pedas juga. Ketika bakso bakar itu disajikan di atas meja kita. Peringatan buat kalian yang membaca blog ini, jangan pernah pesan yang extra pedas kalau kalian bukan maniak makanan pedas, it makes your tummy so ache cause it's just too hotttttt, beb. Huah!!. Yang lucunya lagi, kita naro gorengan itu secara sembunyi-sembunyi..hahaha..kasian tasnya Hakim, yang biasanya berisikan buku-buku kuliah, kitab-kitab dan al-qur'an itu jadi korban untuk menyembunyikan gorengan..hahhaa..gokil. *note: di restoran itu gak boleh bawa makanan dari luar*


Scary Meatballs :)

Diqi, Husen, KimHa


Tantangan: makan bakso tanpa di celup ke kuahnya.

     Setelah makan bakso bakar, kita agendain melancong berikutnya, yaitu BNS. Oke sip. Pas mau keluar Hakim ditarik tangannya sama mbak-mbak cantik untuk foto di suatu banner yang gambarnya Superman Man of Steel apa Iron Man ya? lupa. Hakim gak mau sendiri akhirnya ngajak Husen dan Diqi juga. Ciyee...di foto sama unknown mbak-mbak. LOL :D
Kita gak pulang dulu ke kostan tetapi langsung ke masjid kampus mereka (Hike, Diqi dan Hakim) untuk menunaikan ibadah sholat ashar dan setelah itu mampir dulu sebentar di warungnya Mbak Inne buat minum gratis..ampuunn dah.
     Saatnya jalan ke BNS, kawans. Lewat jalan belakang gitu, selama perjalanan aku baru ngeh loh, kalau jalanan Malang itu tanjakan mulu, kasian Mbak Satria..Hahaha..apa sih? Perjalanan kesana keren banget pemandangannya, I kept taking photos using my mobile phone. Fresh air. Great view. Nice friends. Mountain, Green Paddy field, Blue Sky and Sunset. Maka, Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang engkau dustakan?. Thank You, Allah. You're The Greatest!





      Sampai BNS, kita jalan-jalan dulu..Hahahaa..BNS emang tempat buat menghabiskan weekend yang seru sepertinya, ada ontang-anting, Crazy House, Bumper Cars, Galeri Hantu, Rumah Hantu, Rodeo, Lampion Garden, Go cart, apalagi ya? banyak pokoknya, aku nggak ngapalin satu-satu sih. Husen makes his first attempt dengan coba bermain Rodeo. Yihaa~!! Rodeo itu kalo gak ada yang mainin itu sepi banget, giliran ada yang naek buat main itu jadi tontonan sejuta manusia disana..Hahaa.. Husen terlempar sana-sini menaiki banteng gila tersebut, kita sih jadi penonton aja sambil nyemangatin dia. Hahaha..di akhir permainan, Husen sudah mulai bisa mengatur gerakan badannya, dan ketika selesai dia mendapatkan tepukkan tangan dari para penonton. Woahhh..ciye Husen di tepuk tanganin kayak abis menggelar pertunjukkan. :D
       Setelah itu Husen menantang Hakim dan Diqi. Dia pun menantang wece-wece masuk ke rumah hantu. Hantu di tipi aja aku udah gak mau liat apalagi getting closer sama mahluk halus itu..Ogah! Adzan maghrib-pun terdengar, kita memutuskan untuk sholat maghrib dulu.  Setelah sholat maghrib, kita malah ngeliat barang-barang yang dijual di sekitar itu, beli gantungan, nyoba-nyoba topeng-topeng aneh, dan husen membeli salah satu dari topeng menyeramkan itu. Aneh, kok gak ada topengnya abang Tuxedo bertopeng ya? *dilempar bunga mawar* hahaha.. Setelah itu, dipaksa juga masuk Galeri Hantu dan akhirnya kita masuk kesana..andweee!! Hakm sempet mau balik keluar, tapi dia masuk lagi. Husen di depan yang katanya dia gak takut, paling belakang itu Diqi dan Hakim. Gilanya apa coba? Diqi dan KimHa itu foto-foto di dalem galeri tersebut, sebenarnya aku gak terlalu takut sih kalau aja gak ada suara-suara anehnya, menurut blog yang aku baca, film hantu-hantu itu jadi serem dikarenakan efek dari suara dan backsoundnya. Iya bener loh, aku pernah nonton ghost Ship 2 tanpa suara, cuma gambar dan subtitlenya aja, aku gak teriak-teriak ketakutan. Yang membedakan, ini galeri hantu-hantu Indonesia. Pocong, Kunti, Palasik..Ihh..ogah..ogah..sekali aja cukup masuk itu wahana. Setelah keluar dari wahana yang menakutkan itu, langsung napas panjang dan mendadak keringetan. Yeahh!! Finallyyyyy!!
      Keadaan hawa disanapun mulai mendingin, parahnya kita, wece-wece-nya pada gak ada yang bawa jaket. Wahana terakhir adalah Lampion Garden, Aku mau masuk tapi sama siapanya bingung, setelah hompipah, akhirnya Husen dan Hike nememin aku masuk kesana dan Ochad, Diqi dan Hakim nungguin kita di luar wahana. Tuh kan bener..dalemnya kayak iklan Lotte Duty Free atau iklan Gulaku. Suasana disana berkabut parah, berasa dimana gitu. Ya sebenernya Husen didn't interested with it, but oh come on, BNS terkenal dengan Lampion Gardennya, setidaknya kita pernah masuk walau sekali. Setelah foto-foto sana sini, kita pun keluar wahana tersebut dengan rasa lapar. Yukk...nyari makan.
       Pas mau jalan keluar, Husen dan Ochad jalan duluan, Aku dan Hike menikmati Show yang ada di food court BNS, kemudian kita berhenti sana-sini liat ini-itu sampai akhirnya Husen menelepon kita, menyuruh kita cepet keluar. Hihihii..Modus banget ya kita ninggalin mereka berdua. Perjalanan pulang itu, dinginnya super horor dicampur rasa lapar pula. Pas lagi perjalanan pulang, Diqi bilang, "Bakal mau ke Malang lagi gak?"
"Iyalah, banyak yang belum aku jelajahi disini terutama Semeru, Ranu Kumbolo, sumpah penasaran." Jawabku dengan semangat.
      Tadinya mau makan di angkringan, tetapi sudah pada tutup, akhirnya kita makan tahu telor di sebrang UNISMA. Besok hari terakhir aku di Malang, sedih bakal berpisah dengan Hakim, Diqi, Mbak Inne, Ochad dan keluarga baru disana. Apa ya? Aku suka dengan pengalaman baru, temen-temen baru yang baik, tempat baru, sama temen-temen yang aku kenal juga.. Aku suka semua perasaan yang ada di Malang. I just felt at Home.. 



BNS

Inget ini gak? pas KimHa digandeng sama anak kecil? Hahaha

Tingkah mereka di belakangmu, Qiee..

Hakim bersama 'jiwa'-nya :p

Rodeo, Husen.
Struggling on bull

Hike_LampionGarden

Husen_LampionGarden

Aku_LampionGarden
Tanda Masuk..ya macam tanda masuk konser..

Berasa rumah sendiri :p

The Jaws

Branch of Love


Twin Tower

Menara Eifel

When the flower blooms


Tiduran di depan The Great Wall of China

Me and My Shio














Bedain Diqi dan Husen di tempat yang sama

Mas-mas..tolong jangan dimaenin properti BNS itu.. ^o^


BNS ^^

Makasih buat kalian udah mau nunggu kita keluar dari Lampion Garden :)


Note: Belum ada foto-foto yang di Galeri Hantu itu..




"Life is the art of drawing without an eraser"


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memang TERLALU BAIK itu TIDAK BAIK

Hari minggu adalah hari yang pas -menurut saya- untuk bangun lebih siang dari biasanya sampai membuat ibu saya berteriak, Aduhhhh...bagus banget perawan bangun sianggg!! dan saya hanya memutar badan saya sambil menutup telinga dengan guling saya. Ah, apa saya sering bilang dalam hati ibu saya adalah orang yang cerewet, jadi aja ibu saya makin cerewet. Semua yang saya kerjakan diprotes mulu. Mau protes balik terang-terangan bagaimana...beliau kan ibu saya, bisa-bisa dikutuak jadi batu saya layaknya malin kundang.