Jumat, 15 November 2013 - 7.30 p.m.
| Di stasiun Jatinegara. 7.30 p.m |
Saking excited-nya, sehari sebelum mendaki aku bener-bener gak bisa tidur, jantung berdegup kencang, udah kayak besok mau nikah..halah sotoy, nikah aja belom et salah punya pacar aja nggak..hehhee. Pokoknya dag dig dug hatiku. Setelah mempersiapkan barang-barang yang diperlukan, kekuatan fisik dan mental, aku dan Itha pergi ke Bekasi. Kenapa pergi ke Bekasi? karena meeting point dengan anak-anak komunitasnya di sana. Aku, Itha dan Husen bertemu di stasiun Bekasi sekaligus janjian dengan Bang Bily. Bang Bily adalah ketua squad kita. Setelah ngumpul di alun-alun kota Bekasi, kita berangkat jam sekitar jam 12 malam, seharusnya kita jalan jam 11 malam, ternyata kita harus nunggu Bang Fian dulu yang masih dalam perjalanan. Malam itu memang sedikit gerimis. Setelah Bang Fian menunjukkan batang hidungnya, segera kami semua berdoa sebelum naik bis tronton. Iya, kita naik bis tronton untuk melakukan perjalanan Bekasi-Garut, ada sekitar 30-an orang yang naik mobil ini, tapi akan ada lebih banyak lagi pendaki yang menyusul di sana. Di dalam bis, Husen jadi penjaga tas-tas carrier, hahhaa.. kata Husen, duduknya jangan di atas roda, nanti mabok. Ya aku nurut aja, jadilah aku duduk di samping dia, jagain tas juga deh. -,-"
![]() |
| 'Penunggu tas carrier' Husen. |
Sabtu, 16 Sepetember 2013, 5 a.m.
Biasanya aku nggak bisa tidur di dalam kendaraan, tapi kali ini tumben nyenyak. Hahahaa..mungkin karena gak bisa tidur di malam sebelumnya. Kata Itha, di perjalanan sempet ujan gede banget, aku malah nanya, "Ujan? emangnya ujan?" hahaha..Keblug ternyata. Kata Husen, "Gimana gak keblug? Nih punggung gue sakit-sakit gini gara-gara lu senderin." Aku pura-pura kaget, "Hah? Masa?" terus wajahnya Husen menunjukkan dia tahu kalau aku pura-pura, akhirnya jujur, "Yaelah bentaran doang kali, pala gue butuh tempat nyender juga. Gue gak ngiler kan ya?" ucapku watadosss. Hehhee, sumpah punggung pegel banget, kalo posisinya nunduk mulu, ya masa aku senderan di bahu cowok sebelahku? gak kenal pula, saat itu aku gak punya pilihan. Masalah tidur, kalau Husen mah jangan ditanya, pas bis baru jalan dari Bekasi, kepala dia udah nempel di tumpukkan tas carrier terus dia bismika allahumma ahya wa amuut deh, pelor. Jadi inget pas pertama kali ke Jogja naik kereta, trus kita gak dapet seat, jadi ngampar di jalanan gerbong, Husen tidur di bawah udah kayak orang mati diinjek-injek sama tukang asongan di kereta tetep gak bangun. Hahahaa. Ajaib-ajaib temen gue. Jam 5 subuh, kita berhenti di SPBU garut, dari situ sekitar 10 menit kita udah sampai di gapura selamat datang di Gunung Papandayan. Di SPBU kita sholat, istirahat dan kebetulan, ada warung disebrang jalan langganan komunitas ini, jadi kita sarapan juga disana. Sekitar jam setengah 8, kita baru meneruskan perjalanan.
Ya bukan perjalanan kita, kalau tidak penuh dengan kejutan, intrik dan misteri. Tiba-tiba bis tronton kita diberhentiin sama orang-orang lokal -entah kenapa- setelah nunggu sekitar 2 jam-an kita mengetahui bahwa ternyata bis kita itu gak bisa ke atas -pos 1- harus nyewa mobil pick up ternyata. Ohya, aku bertemu Nip juga di sini. Alhamdulillah juga sih diberhentiin di bawah sini, ternyata Nip menungguku di sini. :) Sekitar jam 10 lebih gitu, kita pergi ke atas naik mobil pick up. Hahahaa..ternyata jalanannya itu bikin kita ketawa gak jelas gitu, sumpah itu jalanan apa disko? kok kita jadi ajojingan di atas mobil? hahhaa..yang duduk ribut kesakitan pantatnya. Lumayan lama pula perjalanan dari bawah ke pos 1 dengan jalanan yang ancur gitu, tapi pemandangannyaaaaa...aku sempet naikin kedua tangan sambil teriak. Keren. Abis itu kehilangan keseimbangan, pegang tangan Nip lagi dan kejepit tas carrier yang segede kulkas lagi. Hahaha.
| Berhenti dulu, kang. Ujan..terpalan dulu. |
| Masih bisa senyum sebelum 'ajojing' :p |
| Hahaa..kelompok yang telornya pecah, jangan2 didudukin sama Hulk ini XD |
Sampai pos 1, kita berkumpul lagi dan berdoa bareng-bareng. Bismillahirrahmanirrahim, kita mulai mendaki jam setengah 12 siang. Cuacanya lumayan mendingan, ada matahari, udara yang sejuk, pemandangan keren, teman lama, teman baru dan sohib-sohibku. What a perfect day! Dalam perjalanan, aku bilang sama Husen, Itha dan Nip supaya santai aja jalannya yaaa..aku pasti ngos-ngosan kalau mengikuti langkah mereka. Trekking gunung Papandayan itu melewati kawah, sungai, dan hutan tentunya, serta trekking tanah-tanah licin, aku tidak sempat menghitung berapa kali aku harus istirahat dalam perjalanan saking keseringannya. Kata Kak Ishman -kakak kelasku- "banyak pendaki yang meninggal itu karena kelelahan, kalau mendaki santai aja, jika lelah istirahatlah sebentar." Oke, itu ilmu survivalku selama mendaki. Itha jalan duluan soalnya kalau dia pake istirahat, dia akan makin lelah, nggak apa-apa dia jalan duluan yang penting dia nggak pake nyasar, hehhee jadilah yang nungguin aku adalah Husen dan Nip. Nip sangat super sabar nungguin aku, Husen juga tapi kadang-kadang dia dorong tas aku pas aku bilang mau istirahat dulu sambil bilang, "Depan landai, Rin. Bonus." pas sampai di depan yang dia maksud tanah landai, ternyata masih tanjakan. "Landai dari Hongkongg!!" Ucapku sambil ngos-ngosan. Aku sudah menghabiskan sebotol air mineral ukuran sedang di pertengahan daki, ketika ada dataran yang landai, aku me-refill air dari botol yang seliter yang ada di dalam tas carrier ku. Lumayan nih jalannya, mana hari kedua pms lagi..ser..ser..ser...sepertinya sangat memungkinkan wajahku akan terlihat pucat. Ohya, sempet pas aku terlihat benar-benar kelelahan, Husen bilang "Rin, siniin tas lu. Gue yang bawa deh." Nip juga bilang, "Iya, wajah lu udah keliatan lelah gitu." Aku terdiam. Tawaran yang menggoda sih, tapiiii..aku nggak mau setengah-setengah gitu mendakinya. Aku harus benar-benar merasakan yang sakit-sakit ini sehingga aku tidak menyesal dengan perjalanan ini. Aku bilang, "Nggak mau. Lu juga gak usah nambah pesona, Sen. I'm on my own mission now." Aku dari tadi udah terpesona sama abang-abang yang bawa carrier segede kulkas 2 pintu itu. Gila, pundak cowok terbuat dari apa sih?
![]() |
| Nip, Husen, aku di Pos awal |
| aamiinnn.. |
| Itha, Husen, Aku. |
| Doa sebelum mendaki :) |
Akhirnya dengan kesabaran dan kebaikan Nip dan Husen, kita pun sampai di Pondok Saladah. Nyari Itha dulu, soalnya dia udah jalan duluan setelah bertemu Itha, kita gelar matras untuk tidur-tiduran sambil menunggu Bang Bily yang belum nyampe di atas. Bang Bily juga yang bawa tenda kelompok. Tiduran dengan pemandangan berkabut, dekat langit, aku tidak pernah membayangkan sebelumnya aku bisa berada di sini, mungkin kalau kita berdoa disini, akan lebih cepat terkabul kali ya? Kan deket langit. Hahaaa..kebiasaan banget kalau udah kecapekan imajinasi gue tambah ngaco. Beberapa menit kemudian, datanglah Bang Bilyyy...dia langsung ngeluarin tenda dengan cepat, secara emang dari tadi udah mulai gerimis. Kata Bang Shiwo -senior di komunitas tersebut- "Nanti pas ke Papandayan, ambil semua ilmu berkemah, mendirikan tenda, dll jangan sampai kita turun tidak mendapatkan apa-apa selain foto." Aku nurut loh dan semuanya ikut belajar mendirikan tenda. Tim kita ini dahsyat lah ya hehee. Set..set..set..jadilah tenda kitaaa...tenda kuning, bukan tenda biru, gak jadi deh nyanyi Tenda Biru nya mbak Desy #halah. Setelah 3 jam mendaki, kita semua merasa lapar juga kedinginan, kabut lumayan tebal, aku udah memakai jaket tambahan. Husen dan Bang Bily mulai mengeluarkan 'senjata' untuk memasak, kompor, hicock, dan nesting, makan siang kali ini adalah 4 mie instan kuah. Saking instannya, cepet mateng, cepet abis juga. Padahal kita sambil ngobrol-ngobrol di dalem tenda, sayang Bang Bily karena dia panitia jadi sering di luar tenda dan jarang ngobrol sama kita deh. Setelah makan, Husen langsung mengeluarkan sleeping bag nya, Nip sholat, aku sama Itha foto-foto. Mumpung kabutnya lagi naik, setelah menunggu Nip selesai sholat, kita foto-foto sama bunga Edelweis, lagi pada mekaran. Disana itu air bersihnya banyak, jadi jangan takut kekurangan air selama berkemah, tau gitu aku kan gak perlu berat-berat bawa air se liter dari bawah ya..tapi pengalaman sih.
![]() |
| Teparrrrrr... |
![]() |
| Itha. Nunggu bang Bily |
| Tenda tim kita. Tenda kuning. ^o^ |
| Husen masak... |
"Ihh..tadi aku liat sesuatu dari semak-semak gitu." Ucap Nip sambil memegang tanganku. Iya sih saat itu memang lagi maghrib.
"terus gimana?" tanyaku.
"Ya udah, aku numpang masuk tenda orang dulu. Mereka tanya, kenapa? terus aku jawab aku liat sesuatu, numpang bentar ya." Cerita Nip. Aku langsung begidik.
"Kamu emangnya bisa liat gituan, Nip?" tanyaku.
"Nggak tau, yang pasti tadi aku liat sesuatu jelas gitu." Ucap Nip dengan nada agak panik.
"Ya udah, yang penting sekarang kamu udah di sini." Ujarku sambil menepuk pundaknya.
Malam pun menunjukkan dahsyatnya, hujan makin deras, angin yang bertiup agak kencang membuat tenda bergoyang..hahhaa..tenda bergoyang. Kita masih ngendep di dalem tenda dengan berbalut sleeping bag nya masing-masing. Husen masih dekat kompor.
"Eh, bikin roti bakar yuk." Ujar Itha. Ya iyalah, kita berempat masa cuma ngobrol aja tanpa ada makanan? Hehehe.. Itha dan Nip yang ngoles-ngolesin roti, Husen yang manggang, dan aku yang makaannnn..Hehehe. Tiba-tiba Bang Bily datengg, yeee...eh tapi cuma ngambil barang-barangnya aja, entah deh Bang Bily mau pindah kemana :'(, emang sih tenda itu cuma muat 3 sampai 4 orangan. Kata Husen, "Entar elu ya Rin yang tidur di luar." trus aku nanggepinnya santai, "Yakin? Ah, mana tega lu kayak gitu sama gue." yaa..maklum udah keseringan jadi bahan leluconnya Husen, tahan banting deh. Makin malam, ada episode Itha mau pipis, trus dia kebingunggan mau dimana, secara ya udah kabut di luar tebel bingit, gerimis, dingin. Aku udah bela-belain keluar tenda demi nemenin dia, udah muter-muter di belakang tenda eh malah gak jadi, Itha masuk lagi ke tenda, pas masuk ke tenda lagi Husen udah anteng di pojokan. Hujan turun lagi, setelah Nip selesai sholat, Itha dan Husen udah tidur, aku akhirnya share-share cerita sama Nip, tentang tulisanku, tawaran kerja jadi reporter dari Nip, si brondong-nya Nip, dan keluarga kita masing-masing. Saat itu Nip bilang sebenernya ibunya lagi sakit, katanya emang lagi sering drop tapi kalau udah minum obat udah sembuh lagi.
aku bilang "semoga cepet sembuh ya ibu kamu, Nip. Tau gitu mah, harusnya kamu gak usah daki aja."
"Gak ah, kan rencana ini kan duluan direncanainnya, masa gak jadi sih?" Ujar Nip. Aku hanya menggangguk aja. Lama kelamaan kita ngobrol dari duduk sampai tiduran dan akhirnya kita ketiduran. Entah jam berapa, aku terbangun, liat Husen di sampingku, lah dia belom sholat ya. Ya udah lah, episode bangunin Husen sholat lagi, kali ini karena gak tau jam berapa, aku mukul-mukul sleeping bag nya. "Sen, bangun, Sen lu belom sholat juga?" dia menggeliat, "jam berapa, Rin?" set dah ni bocah..
Nip yang tiba-tiba bangun juga mungkin karena dengar suaraku langsung jawab, "Jam 2 deh kayaknya." Tiba-tiba dengan cepat Husen duduk terpaku. Terus Nip liat jam nya, "Eh, jam 11 deh." Ucap Nip sambil tersenyum. Hahaha...Husen yang tadinya shock jadi menghela nafas. Itha pun juga ikutan bangun, kebetulan tadi ada panitia yang bagiin nasi kuning, akhirnya Itha bangun kemudian makan, dia masih nahan pipis. Nip menempati posisi tempat tidurnya Husen, sleeping bag nya Husen dijadiin bantal buat dia. Hahhaa. Setelah Itha makan, Husen pun ikut memakan nasi kuning bungkus itu, tapi pake diangetin dulu sama dia, karena gak pake mentega dulu, jadilah pancinya ada gosong-gosongnya. -,-" Aku menyuruh Husen untuk merendam yang gosong2 itu dengan air. Au ah gelap, berasa emak-emak jadinya, tidur aja dah. Gegara Husen tidur deket pintu tenda, aku dan Itha gak bisa selonjoran, oke, kita tidur membentuk mata panahan. Ohya, Husen sempet tidur nggak pake sleeping bagnya karena punya dia dijadiin bantal sama Nip, tapi akhirnya Nip sadar dan ngasih sleeping bag nya ke Husen, aku ngasih jaket ku buat jadi bantalnya Nip, bantal aku sama Itha adalah carrier nya Itha, hehhee. Nyalain lagu Maher Zain dari tape-nya Husen dan Met Boboo...masih dengan posisi mata panahan.
| Camp Field at Pondok Saladah |





Komentar
Posting Komentar