“Assalamu’alaikum…”
“Waalaikumusalam…Ya Allah, Ririn, Riris, Popi, Yanda …datang juga” Ujar Eccy sambil cipika-cipiki pada mereka.
“Emangnya kamu kira kite gak datang?” Tanya Riris sambil mencubit lengan Eccy. Eccy hanya tersenyum.
“Eh, gak nyangka lho kalau kamu bakal sama …Hus..”
“Huaaaishyiiim” Ujar Yanda pura-pura bersin.
“Kalian bener-bener godain aku” Eccy hanya menggelengkan kepalanya. ‘kelompok aneh sudah datang’.
“Eh, Eccy entar ente, ane yang rias ya..” Riris memukul bahu Eccy.
“Jangan !!!!” Popi dan Yanda sedikit teriak. Ririn menoleh kearah mereka berdua.
“Emangnya kenapa Pop,Yan?” Tanya Eccy sama sekali tidak mengerti dengan mereka.
“Karena…takut ente malah jelek lagi” ujar Popi dan mencoba menghindar dari cubitan Riris.
***
Akad nikah pun berlangsung dengan khidmat, penuh cinta. Cinta ? sesuatu hal yang tidak dapat di definisikan oleh kata – kata yang paling indah sekalipun. Tetapi cinta akan terus selalu ada dalam perasaan manusia sekalipun dia adalah seseorang yang sangat jahat. Karena di dalam dirinya yang jahat masih terdapat dirinya yang asli, yang masih terselubungi dengan nuraninya yang murni.
“Barokallahu laka wa baroka ‘alaika wa jam’u lakuma bi khoir” Ujar Popi kepada kedua pasangan itu.
“Gak nyangka ya.. Eccy nikah sama Husein” Ujar Riris.
“Kenapa harus gak percaya Ris? Semua yang terjadi adalah kehendak Allah semata” Nasihat Popi sambil merangkulnya.
“Hei Popi…Riris…!!” sapa Icha dari belakang mereka.
“Ya Allah !! teh Icha…Apa kabar?” Ujar Riris sambil cipika-cipiki dengan Icha, begitu juga Popi melakukan hal yang sama.
“Kesini sama siapa, Teh?” Tanya Popi.
“Sama keluarga……” Ujar Icha dengan senyum di kulum.
“Keluarga? Wah, Teh Icha sudah berkeluarga toh..siapa suaminya? Kok nggak undang kita-kita sih?” Tanya Riris sambil menyenggol lengan Icha.
“Suami? Ada aja…cari aja sendiri” Ledek Icha menantang Riris.
“Huuu.. ngapain nyari, kayak kurang kerjaan aja” Dengus Riris. Icha hanya senyam senyum melihat wajah Riris yang sudah jutek. ‘Riris…Riris masih kayak dulu aja. Masih kayak hulk, jadi monster kalau sudah marah-marah’.
“Kesini sama siapa,Ris? Sama Baginda atau Aziz?” Ledek Icha.
“Please deh. Aku tuh nggak suka sama dia. Lagian sekarang aku nggak pernah ketemu lagi sama dia. So, aku anggap dia sudah mati di telan bumi. Tapi, tuh gossip dari aku kelas dua aliyah sampai sekarang masih aja hidup. Hu uh, sebel !!!”
“Oke ! Sorry, maafin aku” Ujar Icha sambil menggenggam tangan Riris. Dia hanya bercanda , karena……
***
Seorang pemuda berwajah manis, klimis, dan tingginya berukuran standar untuk seorang laki-laki. Dia berjalan mendekati sang istri, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang diantara teman-teman istrinya. ‘sepertinya aku pernah melihat perempuan itu. Tapi, dimana yah?’ Batin pemuda itu.
“Hei,Ziz ! ternyata ente datang juga” Sapa seorang pemuda yang dari tadi ragu-ragu menyapa Aziz. ‘abis, nih anak tambah tinggi aja sih’ Kata pemuda itu dalam hati.
“Eh, kamu………” Aziz berfikir sejenak untuk mengingat nama pemuda tersebut.
“Oh, kamu Fathin yah….” Tebak Aziz beberapa menit kemudian.
“Butuh berapa jam sih untuk ingat nama ane?” Ujar pemuda itu yang bernama Fathin sambil memeluknya. “Jangan-jangan ente terserang amnesia ya?” Ledek Fathin, Aziz hanya tertawa. ‘ sepertinya ……begitu’ batin Aziz.
“Hei…ada yang butuh obat amnesia di waktu umur 25 tahun?” Tanya pemuda yang tiba-tiba berada di antara pembicaraan mereka.
“Hei !!! Galih?” Ujar mereka berdua agak terkejut.
“Nggak nyangka kita ketemu lagi. Tapi, kali ini dengan suasana yang berbeda. Dulu waktu kita di pondok pakai putih hitam, sekarang sudah pakai jas sama dasi dan menjadi manusia yang berhasil” Ujar Galih sambil membenarkan posisi dasinya, mereka pun tertawa.
***
“Assalamu’alaikum... teteh masih ingat ane?” Tanya Ririn dari belakang Icha. Icha menoleh sambil tersenyum.
“Teh Icha juga ingat sama Yanda kan?” sapa Yanda yang berada di samping Ririn.
“ Ya Allah…kalian juga disini? Surprise banget” Teh Icha terheran-heran melihat satu-satu wajah teman-temannya.
“Teh, kita-kita lagi pada mood aja datang ke acara pernikahan. Lagian kita kan bete di rumah terus” Ujar Ririn.
“Idih, kita? Elo aja ama ……KUDA” Ledek Riris sambil menaikan alis kanannya.
“Bukan” Timpal Yanda.
“Lho ?? kok bukan? Bukan apaan?” Riris melongo melihat Yanda yang tiba-tiba menimpali pembicaraannya.
“Mobil punya Ririn kan Lexus model terbaru, masa lu nggak tau sih?”
“Aduh…please deh Yan, maksudku tuh bukan mobil,Tapi……”
“Pop, ente denger ane nggak sih. Mobil Ririn yang kita naikin tadi Lexus. Gimana sih lo, lo yang nyetir masa lo nggak tau……Gimana ? udah ketemu? Ya udah deh ……sama-sama. Waalaikum salam” Yanda mengeluarkan handphone nya dari saku jubahnya. Riris terdiam menatap Yanda, Ririn dan Icha menahan tawa.
“Kenapa, Ris? Jangan mandang kayak gitu sama aku !” Ujar Yanda sambil menepuk pipi Riris.
“Ya Allah !! Yanda, kamu dari tadi ngomong di hp?” Tanya Riris, masih menatap Yanda.
“Iya, aku tadi ngomong di hp sama Popi… Emangnya ada apa, Ris?” Tanya Yanda tidak mengerti tingkah aneh Riris terhadapnya.
Wajah Riris pias menatap Ririn. ‘Emang enak, ceng-in gue sih tadi’ batin Ririn. ‘Tapi, kesian juga sih sama nih anak, tuh bocah wajahnya pias banget’
“Udah deh, ga usah dibahas” Ujar Ririn sambil mengajak Yanda pergi, meninggalkan Icha dan Riris.
“Woi !!! Jangan pergi dong ! Trus, nih anak satu, kecut banget wajahnye” Teriak Ratu ribut se-Boarding (waktu tempo dulu)
dan mencubit pipi Riris. Riris meringis dan menoleh ke belakang.
“ERI ??!!” Teriak Icha dan Riris sambil memeluk Eri.
“Duh, jangan teriak-teriak dong ! entar kan banyak yang minta tanda tangan” Ujar Eri sambil meletakkan telunjuknya depan bibirnya.
“Dih, Ge-er banget” Ujar Icha.
“Ga pa pa, berarti Eri belum berubah” Ujar Riris sambil tersenyum kearah Eri.
“Duh, udah punya jagoan lagi” Ujar Riris sambil mengangkat bayi laki-laki yang baru berumur 2 tahun dari gendongan ibunya. Eri tersenyum menatap bayi itu.
“Hm, kamu nikah sama Andrian?” Tanya Riris.
“Lho, kok tahu?” Ujar Eri bingung. ‘padahal aku mau mengejutkan mereka’
“Lho, kok bisa tau, Ris?” Tanya Icha.
“Gampang aja. Aku tahu tipe suami yang bisa nanganin temanku yang satu ini” Ujar Riris asal. Padahal waktu dia lewat Bogor sehabis hiking bersama teman-teman di fakultas hukum, dia melihat walimahan Eri dan Andrian. Niatnya, mau menghadiri walimahannya, tapi sayang, teman-teman dan Riris harus pulang, karena hari sudah menjelang sore, dan baju Riris pun sudah bercampur dengan lumpur.
Popi, Yanda dan Ririn sudah berada diantara mereka. Eri dan Icha menasehati para-para jomblo agar tidak salah memilih pasangan hidup. Lama-lama Riris merasa jenuh dengan pembicaraan mereka, Riris mencolek bahu Popi.
“Pop, ane minjem kunci mobil dong” Pinta Riris. Tanpa ba-bi-bu Popi memberikan kunci mobil Ririn kepada Riris.
“Waalaikumusalam…Ya Allah, Ririn, Riris, Popi, Yanda …datang juga” Ujar Eccy sambil cipika-cipiki pada mereka.
“Emangnya kamu kira kite gak datang?” Tanya Riris sambil mencubit lengan Eccy. Eccy hanya tersenyum.
“Eh, gak nyangka lho kalau kamu bakal sama …Hus..”
“Huaaaishyiiim” Ujar Yanda pura-pura bersin.
“Kalian bener-bener godain aku” Eccy hanya menggelengkan kepalanya. ‘kelompok aneh sudah datang’.
“Eh, Eccy entar ente, ane yang rias ya..” Riris memukul bahu Eccy.
“Jangan !!!!” Popi dan Yanda sedikit teriak. Ririn menoleh kearah mereka berdua.
“Emangnya kenapa Pop,Yan?” Tanya Eccy sama sekali tidak mengerti dengan mereka.
“Karena…takut ente malah jelek lagi” ujar Popi dan mencoba menghindar dari cubitan Riris.
***
Akad nikah pun berlangsung dengan khidmat, penuh cinta. Cinta ? sesuatu hal yang tidak dapat di definisikan oleh kata – kata yang paling indah sekalipun. Tetapi cinta akan terus selalu ada dalam perasaan manusia sekalipun dia adalah seseorang yang sangat jahat. Karena di dalam dirinya yang jahat masih terdapat dirinya yang asli, yang masih terselubungi dengan nuraninya yang murni.
“Barokallahu laka wa baroka ‘alaika wa jam’u lakuma bi khoir” Ujar Popi kepada kedua pasangan itu.
“Gak nyangka ya.. Eccy nikah sama Husein” Ujar Riris.
“Kenapa harus gak percaya Ris? Semua yang terjadi adalah kehendak Allah semata” Nasihat Popi sambil merangkulnya.
“Hei Popi…Riris…!!” sapa Icha dari belakang mereka.
“Ya Allah !! teh Icha…Apa kabar?” Ujar Riris sambil cipika-cipiki dengan Icha, begitu juga Popi melakukan hal yang sama.
“Kesini sama siapa, Teh?” Tanya Popi.
“Sama keluarga……” Ujar Icha dengan senyum di kulum.
“Keluarga? Wah, Teh Icha sudah berkeluarga toh..siapa suaminya? Kok nggak undang kita-kita sih?” Tanya Riris sambil menyenggol lengan Icha.
“Suami? Ada aja…cari aja sendiri” Ledek Icha menantang Riris.
“Huuu.. ngapain nyari, kayak kurang kerjaan aja” Dengus Riris. Icha hanya senyam senyum melihat wajah Riris yang sudah jutek. ‘Riris…Riris masih kayak dulu aja. Masih kayak hulk, jadi monster kalau sudah marah-marah’.
“Kesini sama siapa,Ris? Sama Baginda atau Aziz?” Ledek Icha.
“Please deh. Aku tuh nggak suka sama dia. Lagian sekarang aku nggak pernah ketemu lagi sama dia. So, aku anggap dia sudah mati di telan bumi. Tapi, tuh gossip dari aku kelas dua aliyah sampai sekarang masih aja hidup. Hu uh, sebel !!!”
“Oke ! Sorry, maafin aku” Ujar Icha sambil menggenggam tangan Riris. Dia hanya bercanda , karena……
***
Seorang pemuda berwajah manis, klimis, dan tingginya berukuran standar untuk seorang laki-laki. Dia berjalan mendekati sang istri, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang diantara teman-teman istrinya. ‘sepertinya aku pernah melihat perempuan itu. Tapi, dimana yah?’ Batin pemuda itu.
“Hei,Ziz ! ternyata ente datang juga” Sapa seorang pemuda yang dari tadi ragu-ragu menyapa Aziz. ‘abis, nih anak tambah tinggi aja sih’ Kata pemuda itu dalam hati.
“Eh, kamu………” Aziz berfikir sejenak untuk mengingat nama pemuda tersebut.
“Oh, kamu Fathin yah….” Tebak Aziz beberapa menit kemudian.
“Butuh berapa jam sih untuk ingat nama ane?” Ujar pemuda itu yang bernama Fathin sambil memeluknya. “Jangan-jangan ente terserang amnesia ya?” Ledek Fathin, Aziz hanya tertawa. ‘ sepertinya ……begitu’ batin Aziz.
“Hei…ada yang butuh obat amnesia di waktu umur 25 tahun?” Tanya pemuda yang tiba-tiba berada di antara pembicaraan mereka.
“Hei !!! Galih?” Ujar mereka berdua agak terkejut.
“Nggak nyangka kita ketemu lagi. Tapi, kali ini dengan suasana yang berbeda. Dulu waktu kita di pondok pakai putih hitam, sekarang sudah pakai jas sama dasi dan menjadi manusia yang berhasil” Ujar Galih sambil membenarkan posisi dasinya, mereka pun tertawa.
***
“Assalamu’alaikum... teteh masih ingat ane?” Tanya Ririn dari belakang Icha. Icha menoleh sambil tersenyum.
“Teh Icha juga ingat sama Yanda kan?” sapa Yanda yang berada di samping Ririn.
“ Ya Allah…kalian juga disini? Surprise banget” Teh Icha terheran-heran melihat satu-satu wajah teman-temannya.
“Teh, kita-kita lagi pada mood aja datang ke acara pernikahan. Lagian kita kan bete di rumah terus” Ujar Ririn.
“Idih, kita? Elo aja ama ……KUDA” Ledek Riris sambil menaikan alis kanannya.
“Bukan” Timpal Yanda.
“Lho ?? kok bukan? Bukan apaan?” Riris melongo melihat Yanda yang tiba-tiba menimpali pembicaraannya.
“Mobil punya Ririn kan Lexus model terbaru, masa lu nggak tau sih?”
“Aduh…please deh Yan, maksudku tuh bukan mobil,Tapi……”
“Pop, ente denger ane nggak sih. Mobil Ririn yang kita naikin tadi Lexus. Gimana sih lo, lo yang nyetir masa lo nggak tau……Gimana ? udah ketemu? Ya udah deh ……sama-sama. Waalaikum salam” Yanda mengeluarkan handphone nya dari saku jubahnya. Riris terdiam menatap Yanda, Ririn dan Icha menahan tawa.
“Kenapa, Ris? Jangan mandang kayak gitu sama aku !” Ujar Yanda sambil menepuk pipi Riris.
“Ya Allah !! Yanda, kamu dari tadi ngomong di hp?” Tanya Riris, masih menatap Yanda.
“Iya, aku tadi ngomong di hp sama Popi… Emangnya ada apa, Ris?” Tanya Yanda tidak mengerti tingkah aneh Riris terhadapnya.
Wajah Riris pias menatap Ririn. ‘Emang enak, ceng-in gue sih tadi’ batin Ririn. ‘Tapi, kesian juga sih sama nih anak, tuh bocah wajahnya pias banget’
“Udah deh, ga usah dibahas” Ujar Ririn sambil mengajak Yanda pergi, meninggalkan Icha dan Riris.
“Woi !!! Jangan pergi dong ! Trus, nih anak satu, kecut banget wajahnye” Teriak Ratu ribut se-Boarding (waktu tempo dulu)
dan mencubit pipi Riris. Riris meringis dan menoleh ke belakang.
“ERI ??!!” Teriak Icha dan Riris sambil memeluk Eri.
“Duh, jangan teriak-teriak dong ! entar kan banyak yang minta tanda tangan” Ujar Eri sambil meletakkan telunjuknya depan bibirnya.
“Dih, Ge-er banget” Ujar Icha.
“Ga pa pa, berarti Eri belum berubah” Ujar Riris sambil tersenyum kearah Eri.
“Duh, udah punya jagoan lagi” Ujar Riris sambil mengangkat bayi laki-laki yang baru berumur 2 tahun dari gendongan ibunya. Eri tersenyum menatap bayi itu.
“Hm, kamu nikah sama Andrian?” Tanya Riris.
“Lho, kok tahu?” Ujar Eri bingung. ‘padahal aku mau mengejutkan mereka’
“Lho, kok bisa tau, Ris?” Tanya Icha.
“Gampang aja. Aku tahu tipe suami yang bisa nanganin temanku yang satu ini” Ujar Riris asal. Padahal waktu dia lewat Bogor sehabis hiking bersama teman-teman di fakultas hukum, dia melihat walimahan Eri dan Andrian. Niatnya, mau menghadiri walimahannya, tapi sayang, teman-teman dan Riris harus pulang, karena hari sudah menjelang sore, dan baju Riris pun sudah bercampur dengan lumpur.
Popi, Yanda dan Ririn sudah berada diantara mereka. Eri dan Icha menasehati para-para jomblo agar tidak salah memilih pasangan hidup. Lama-lama Riris merasa jenuh dengan pembicaraan mereka, Riris mencolek bahu Popi.
“Pop, ane minjem kunci mobil dong” Pinta Riris. Tanpa ba-bi-bu Popi memberikan kunci mobil Ririn kepada Riris.
Komentar
Posting Komentar