Langsung ke konten utama

Ngarang pertama kali [episod 3]


Pintu lift terbuka, di dalamnya ada beberapa laki-laki dan perempuan, Riris memasuki lift menuju lantai dasar. Riris menyandarkan tubuhnya di dinding lift seolah dia tidak merasakan sepasang mata nanar menatap dirinya. Satu persatu orang yang berada di lift meninggalkan lift, kecuali seorang laki-laki yang sedari tadi membuang pandangan darinya.
          ‘Idih ge-er banget sih, emang siapa yang mau liatin dia’ Batin Riris sambil melipat tangannya di depan badannya.


          “ Kamu……Riris ya?” Laki-laki itu  mengawali pembicaraan mereka. Riris menoleh, merasa aneh. ‘kenapa dia tahu namaku? nama pendek lagi’
          “Hm,iya… saya Riris. Maaf anda siapa yah?” Ujar Riris sambil menatap laki-laki itu.
Laki-laki itu hanya tersenyum. ‘ Ris, kamu nggak inget aku sama sekali ?’ batin laki-laki itu.
          “Masa kamu tidak tahu saya?” Ujarnya sambil menatap Riris. ‘sepertinya aku kenal dengan tatapan mata yang rada nyebelin kayak gitu. Tapi, siapa yah ?’ Batin Riris.
          “Kamu nggak pernah mau maafin semua kesalahanku waktu kelas dua aliyah. Masa kamu ga inget aku?” Laki-laki itu menatap atap lift dan berusaha mengingatkan Riris akan dirinya.
          “K…K amu…..” Ujar Riris terbata-bata. Riris sudah mengingat diri laki-laki yang berada di depan dirinya.
           Riris seperti tidak percaya  dengan seseorang yang berada di depan dirinya. Laki- laki itu kini telah berbeda dari segi pakaiannya dan wajahnya, lebih terawat di bandingkan yang dia yang dulu. Gayanya lebih eksekutif dan kebapakkan dari pada dia yang lalu.
          “Sepertinya kamu telah ingat aku. Gimana kabarnya? Sudah lama kita nggak bertemu, aku terakhir kali melihatmu ketika haflah ikhtitam dan setelah itu kamu pergi tanpa kabar. Tapi, aku tahu, kamu kuliah di UI fakultas hukum yah?” Tanya laki-laki itu.
          “Ada aja yah, di dunia yang luas ini orang aneh kayak kamu. Tapi, nggak pa pa aku jawab pertanyaan dari kamu. Pertama, kabarku sangat baik, tapi tidak saat bertemu denganmu di lift ini. Kedua, yup, benar aku kuliah di UI fakultas hukum, ada yang ditanyakan lagi?” Jawab Riris asal. ‘ nih anak emang berubah secara fisik, tapi sifatnya, masih aja nyebelin kayak dulu’ batin Riris.
          Lain lagi dengan suara batin laki-laki itu. ‘ Riris yang ku kenal yang lalu dan yang sekarang, sama aja’                                       
                    Tetapi, lelaki itu memandangnya penuh takjub. Dulu dia mengenal Riris sebagai akhwat yang berwatak keras, terlihat angkuh, dan tomboy. Kini Zatira Risma Nanda telah dihadapannya, dia sangat berbeda dari yang ia kenal 4 tahun silam. Perpaduan warna coklat susu pada baju atasan dan kerudungnya, dan coklat batang pada roknya membuat diri Riris sangat eksotic di mata laki-laki itu.
          Pintu lift terbuka, mereka menuju mobil mereka masing-masing, tapi, sayang, nasib Riris kurang mujur. Mobil laki-laki itu samping mobil Lexus punya Ririn. Untungnya Riris bisa tampil cuek, soalnya waktu di pondok dia kan anak theatre. So, gampang saja buat dia untuk merubah mimiknya. Riris meraba-raba ranselnya, ‘ nih die’ sambil mengeluarkan handycam dari ranselnya. Riris menutup mobil dan melihat laki-laki itu memencet handphonenya, Riris cepat-cepat menunggu lift. Tetapi, sepertinya dia harus sabar untuk menunggu lift, karena hotel ini kan berbintang empat.
         
Beberapa menit kemudian, lift yang di samping kanannya terbuka.
          “Teh Icha? Ngapain teteh kesini?” Tanya Riris sambil menjabat tangan Icha.
          “Mau pulang, Ris. Suami ada acara” Ujar Icha.
         
          “Ohya, teh , aku kan belum tau siapa suami teteh”
          “Nggak ah, teteh malu sama Riris…” Ujar Icha malu-malu.
          “Teteh mah gitu euy sama Riris” Ujar Riris sambil mencubit pipi Icha.
          Tiba-tiba suara bariton yang sangat khas di telinga Riris memanggil nama Icha. Riris membulatkan matanya dan membenarkan kacamatanya. Seakan-akan Riris benar-benar mimpi , apa yang telah dia lihat saat ini.
          “Suami teteh…. A..Aziz?” Tanya Riris sambil tersenyum, dan membisikan sesuatu.
          ”Oh…jadi Nyonya Kim? Ngomong dong ngomong. Ok, Mrs.Kim kamu boleh pulang” Ledek Riris dengan lincah memasuki lift seraya melambaikan tangannya kearah Icha.
***

          “Hoi, Pop !!!” Riris berlari kearah Popi.
          “Eh, Ris, sudah tahu suaminya teh Icha belum?” TanyaPopi sambil menahan tawa.
          “Hm, belum tuh…emang nya siapa, Pop?” Tanya Riris, kali ini dia berbohong. Soalnya malu, kalau dia bilang dia bertemu dengan Aziz di lift, pake ceng-in Aziz lagi. Bisa berabe se-RT deh (Rukun Temen).
          “Jangan pingsan yah” Ledek Popi, Riris tertawa. ‘Pingsan? Emangnya dia siapa gue.’
          “Suaminya, Aziz Muharrom” Bisik Popi tepat di depan telinga Riris.Popi kira Riris akan tertawa atau berteriak. Nyatanya? Riris biasa-biasa aja tuh.
          “Kok nggak ada respon sih?” Popi merasa aneh.
          “Kan udah ane bilang, kalau ane tuh, nggak suka sama bocah itu”
          “Ya udah, tapi, Subhanallah ya. Sekarang dia benar-benar jadi pengusaha kilang minyak lho”
          “Hah? Jadi Mr.Kim beneran?” Tanya Riris agak terkejut. Tetapi, Popi sudah bergabung dengan teman-teman yang lain. Riris menghela nafas panjang.
          ‘Kali ini, ane baru yakin kalau perkataan itu adalah sebuah do’a’ hatinya berujar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memang TERLALU BAIK itu TIDAK BAIK

Hari minggu adalah hari yang pas -menurut saya- untuk bangun lebih siang dari biasanya sampai membuat ibu saya berteriak, Aduhhhh...bagus banget perawan bangun sianggg!! dan saya hanya memutar badan saya sambil menutup telinga dengan guling saya. Ah, apa saya sering bilang dalam hati ibu saya adalah orang yang cerewet, jadi aja ibu saya makin cerewet. Semua yang saya kerjakan diprotes mulu. Mau protes balik terang-terangan bagaimana...beliau kan ibu saya, bisa-bisa dikutuak jadi batu saya layaknya malin kundang.